| kebebasan individu |
Jadi, perilaku manusia dalam Islam tergantung pada kebijaksanaannya. Perselisihan antar manusia karenanya secara intrinsik tak terhindarkan dan malah diharapkan: ”Dan jika Tuhanmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia satu umat, tetapi mereka selalu memiliki perbedaan pendapat. Kecuali orang yang diberi rahmat oleh Tuhanmu; begitulah Allah menciptakan mereka” (Qur'an 11:118-119).
Islam tidak membatasi kebebasan manusia dalam cara apapun, tapi membuat manusia bertanggung jawab, atas konsekuensi dari keputusan-keputusan mereka, baik secara individu maupun secara kolektif; seseorang harus memikirkan tindakannya dan mempertimbangkan konsekuensinya. Kemungkinan untuk berurusan dengan konsekuensi tertentu, mungkin tampaknya membatasi kebebasan individu, tapi ini memberikan keuntungan yang mendalam kepada masyarakat, karena terus-menerus menguatkan pepatah: ”Kebebasan seseorang berakhir ketika kebebasan orang lain dimulai.” Jika bukan karena pembatasan ini, berkah kebebasan akan menjadi kutukan kekacauan, dan kebebasan individu akan menjadi gangguan bagi orang lain dan pelanggaran terhadap kepentingan dan pilihan-pilihan mereka.
Tapi bagaimana akuntabilitas untuk pilihan seseorang dijalankan dalam kerangka Islam?
Mula-mula, hal itu dilaksanakan melalui pertanggungjawaban bersifat hukuman yang dibuat oleh pihak berwenang yang mengurusi hubungan publik, termasuk tugas mewujudkan keteraturan. Memindahkan tanggung jawab kepada otoritas yang lebih tinggi secara esensial memungkinkan pencegahan konflik, atau penyelesaiannya, seandainya sudah terlanjur terjadi. Karena tanggung jawab disipliner ini bertujuan untuk menghindari pelanggaran, maka sejalan dengan hadis Rasulullah SAW, tidak merugikan dan tidak merusak, seperti ayat Qur’an: ”Sesungguhnya Allah tidak mengasihi orang-orang yang melampaui batas”(Qur'an 2:190).
Kedua, Islam menempatkan tanggung jawab moral yang terus-menerus di pundak kita, yang langsung berkaitan dengan hubungan dengan Tuhan, yang akan menuntut tanggung jawab manusia atas tindakannya di Hari Pembalasan. Memikul tanggung jawab yang berat ini mengingatkan manusia untuk menerima nilai-nilai moralitas, yang dikemukakan Al Qur’an dengan menjanjikan pengampunan dan kedamaian abadi di surga, juga menegakkan peringatan hukuman bagi yang berbuat salah. Tidak ada mahluk lain yang memiliki otoritas untuk menghukum atau memaafkan. Hanya Tuhan, dalam kehidupan sesudah mati, yang boleh menghakimi tindakan dan perbuatan seseorang. Karenanya, orang itu harus berusaha menyucikan jiwanya dari keinginan dan nafsu duniawi, serta memperbaiki hubungannya dengan Sang Pencipta.
Pandangan Islam mengenai kebebasan dan kemerdekaan sejalan dengan panggilan Sang Maha Kuasa kepada manusia agar membentuk perilaku dan menggunakan keterampilan serta seni yang dimilikinya untuk kepentingan bersama, di samping untuk kebahagiaan pribadi. Para ahli pengetahuan, sains, dan seni menikmati statusnya yang lebih tinggi di masyarakat atas kecakapan mereka untuk menjelaskan berbagai hal dan bertindak sebagai mata dan telinga masyarakat. Selain itu, mereka memiliki peran yang efektif dalam masyarakat, dengan demikian, tanggung jawab mereka kepada orang lain menjadi lebih besar.
Puisi, tulisan, dan bentuk-bentuk seni lainnya disambut dan dihargai dalam Islam selama hal tersebut tidak merugikan siapa pun. Menyinggung orang lain konsekuensinya akan menyulut tindakan hukuman terhadap sang seniman demi menjaga moral sebuah masyarakat terhadap semua pelanggaran atas nama kebebasan individu yang salah tempat. Tak seorangpun kecuali mereka yang memiliki otoritas religius yang boleh memikul peran otoritas.
Seni memperoleh nilainya dari manusia karena ia melayani. Dengan sendirinya, karya sang inovator tersebut haruslah mendukung alasan-alasan manusiawi dan memiliki nilai-nilai yang sangat bagus dan mulia. Lagipula, hubungan antara seni dan manusia bersifat timbal-balik: seperti halnya manusia hidup oleh seni, begitu juga seni dihidupkan oleh manusia. Seni yang merusak ide-ide manusia akan kebenaran dan nilai dan salah mewakili aspirasi masyarakat seharusnya mengikuti ucapan Nabi Muhammad: ”Siapa yang percaya kepada Tuhan dan Hari Pembalasan harus mengatakan apa yang baik atau diam.”
Ketika sebuah karya seni melanggar individu lain atau merupakan pelanggaran yang bisa dihukum oleh undang-undang, maka kewajiban pihak berwenanglah untuk segera menahan pelanggaran tersebut, mencegah munculnya konflik. Siapapun tidak diperbolehkan meyakinkan orang lain atau berpikir dirinya diutus oleh Tuhan untuk memberikan hukuman atau membuat orang lain bertanggung jawab atas kelakuan mereka.
Baik dari perspektif spiritual maupun humanis, seni yang tidak melayani alasan-alasan kemanusiaan jelas berada di bawah standar kemanfaatan kreatifitas, dan pastinya akan berumur pendek. Upaya-upaya untuk mencegah secara paksa atau menghilangkan seni yang oleh sebagian orang disebut seni demi seni adalah sia-sia belaka, dan energi tersebut lebih baik disalurkan untuk membuat kontribusi positif kepada masyarakat dan dunia melalui alat apapun yang kita miliki. Manifestasi kebebasan berekspresi semacam yang diberikan Tuhan itu adalah hal yang terbaik.
Islam dan Kebebasan Individu
Sumber: Kantor Berita Common Ground (CGNews)www.commongroundnews.org